Disorot! Anggaran Rp45 Juta Mobil Siaga Desa Dayukidul Dipertanyakan, Minim Bukti dan Rawan Disalahgunakan

Gambar ilustrasi mobil siaga
Gambar ilustrasi mobil siaga

MATAJAWATIMUR, BOJONEGORO – Penggunaan anggaran operasional mobil siaga di Desa Dayukidul, tahun anggaran 2024, mulai menuai sorotan. Nilai yang mencapai Rp45 juta dinilai cukup besar untuk skala desa, namun hingga kini transparansi penggunaan anggaran tersebut dipertanyakan.

Berbeda dengan proyek fisik seperti jalan atau jembatan yang dapat dilihat secara kasat mata, pos operasional mobil siaga tidak memiliki output yang jelas.

Bacaan Lainnya

Hal ini memunculkan pertanyaan publik terkait akuntabilitas dan penggunaan riil anggaran tersebut.

Sejumlah pihak menilai, tanpa adanya catatan penggunaan yang rinci, anggaran operasional berpotensi menjadi celah penyimpangan.

“Kalau tidak ada logbook penggunaan, sulit memastikan mobil itu benar-benar digunakan atau tidak. Ini yang rawan,” ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan identitasnya.

Ia menambahkan, pos operasional seperti ini sangat fleksibel karena dapat dipecah ke berbagai komponen, mulai dari bahan bakar minyak (BBM), biaya servis kendaraan, honor sopir, hingga perjalanan dinas.

“Semua itu sangat mungkin dimark-up atau bahkan dibuat fiktif kalau tidak diawasi ketat,” imbuhnya.

Selain itu, nilai Rp45 juta dinilai tidak proporsional apabila tidak disertai dengan data penggunaan yang jelas, seperti frekuensi pemakaian mobil, tujuan penggunaan, serta manfaat langsung bagi masyarakat.

Minimnya akses masyarakat terhadap informasi juga memperkuat kecurigaan. Warga disebut tidak mengetahui secara pasti kapan mobil siaga digunakan, untuk siapa, dan berapa biaya operasional yang dikeluarkan setiap kali pemakaian.

Padahal, dalam berbagai kasus pengelolaan dana desa, pos anggaran operasional kerap menjadi titik rawan terjadinya penyimpangan, baik berupa mark-up anggaran maupun kegiatan yang tidak benar-benar dilaksanakan.

Adapun sejumlah potensi modus yang kerap terjadi antara lain penggelembungan biaya BBM, laporan servis kendaraan yang tidak pernah dilakukan, pembayaran honor sopir yang tidak jelas, hingga penggunaan mobil yang minim namun anggaran tetap terserap besar.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah Desa Dayukidul belum memberikan keterangan resmi terkait rincian penggunaan anggaran operasional mobil siaga tersebut.

Media ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada kepala desa maupun pihak terkait guna memperoleh penjelasan lebih lanjut.

Transparansi dan keterbukaan informasi dinilai menjadi kunci untuk menjawab keraguan publik sekaligus memastikan penggunaan dana desa benar-benar tepat sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat.

Penulis: (Silo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *