matajawatimur – Surabaya kembali mendapat sorotan terkait persoalan lingkungan yang berdampak langsung pada dunia pendidikan. Di tengah gencarnya slogan kota nyaman dan humanis yang kerap disampaikan Wali Kota Eri Cahyadi, para siswa di SMKN 5 Surabaya justru masih harus menghadapi bau menyengat dari TPS Kaliwaron setiap hari.
Tempat pembuangan sementara (TPS) yang berada di kawasan Jalan Kaliwaron, Kecamatan Gubeng itu disebut hanya berjarak sekitar 10 meter dari area sekolah. Kondisi tersebut diduga mengganggu aktivitas belajar mengajar, terutama di ruang teori kelas dan area tata usaha.
Keluhan terkait bau sampah ini sebenarnya bukan persoalan baru. Berdasarkan laporan sejumlah media lokal, gangguan sudah dirasakan sejak tahun 2023 dan hingga kini belum menemukan solusi permanen. Pihak sekolah bahkan telah beberapa kali mengajukan relokasi TPS kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya serta pemerintah setempat.
Kepala sekolah menyebut upaya pemindahan TPS sempat mendapat dukungan warga dan telah dibahas dalam beberapa pertemuan lingkungan. Namun realisasi relokasi disebut masih terhambat proses administratif dan belum adanya keputusan final dari pihak terkait.
Kondisi ini memunculkan kritik publik terhadap komitmen Pemerintah Kota Surabaya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat. Banyak pihak menilai persoalan tersebut tidak bisa dianggap sekadar masalah sampah biasa, melainkan sudah menyangkut kesehatan siswa, kenyamanan belajar, hingga kualitas pendidikan.
“Kalau benar pendidikan menjadi prioritas, seharusnya persoalan seperti ini cepat ditangani. Anak-anak sekolah tidak seharusnya setiap hari belajar dalam kondisi terganggu bau sampah,” ujar salah satu warga sekitar yang ikut menyoroti kondisi tersebut.
Sebagai salah satu sekolah kejuruan negeri besar di Surabaya, SMKN 5 Surabaya memiliki ratusan siswa aktif dan menjadi tempat pendidikan vokasi penting di Kota Pahlawan.
Publik kini menunggu langkah konkret Pemerintah Kota Surabaya untuk menyelesaikan polemik TPS Kaliwaron. Sebab, citra kota modern dan humanis dinilai akan sulit terwujud jika para pelajar masih dipaksa berdampingan dengan bau sampah setiap hari.







