Lamongan // matajawatimur – SPBU Bulutrate merasa dirugikan atas pemberitaan dan informasi yang beredar di media sosial yang menuding adanya praktik kongkalikong antara pengangsu solar dan operator SPBU. Tuduhan tersebut dibantah oleh pihak pengawas maupun operator SPBU Bulutrate.
Mereka menegaskan bahwa praktik tersebut tidak mungkin terjadi karena operator tidak mengizinkan pihak lain memegang nozzle untuk melakukan pengisian bahan bakar secara mandiri.
Pihak SPBU juga menjelaskan bahwa apabila terdapat pengisian menggunakan drum, hal tersebut dilakukan oleh para petani yang membutuhkan solar untuk keperluan alat pertanian. Pengisian tersebut hanya dapat dilayani dengan menggunakan barcode resmi sesuai ketentuan yang berlaku.
Terkait video yang beredar di TikTok dan Instagram, pihak SPBU Bulutrate
menegaskan bahwa informasi yang menyebut video tersebut diambil di SPBU Bulutrate adalah tidak benar. Mereka menyebut narasi yang mengaitkan video tersebut dengan SPBU Bulutrate sebagai hoaks dan upaya yang berpotensi menyudutkan pihak SPBU.
“Di SPBU kami tidak pernah terjadi kejadian seperti yang ditampilkan dalam video tersebut,” ujar pihak SPBU.
Untuk itu, pihak SPBU berencana mengundang pemilik akun TikTok yang mengunggah video tersebut guna melakukan klarifikasi. Langkah ini dilakukan agar unggahan tersebut tidak merugikan pihak mana pun.
Beberapa hari terakhir, jagat media sosial di Lamongan dihebohkan dengan beredarnya video berisi keluhan seorang sopir truk yang mengaku telah menunggu selama beberapa jam untuk mengantre solar di sebuah SPBU. Namun, dalam video tersebut tidak disebutkan secara spesifik lokasi SPBU yang dimaksud.
Meski demikian, pada unggahan ulang yang beredar di salah satu akun Instagram, ditambahkan keterangan lokasi yang mengarah ke SPBU Bulutrate. Hal inilah yang kemudian memicu berbagai spekulasi dan tanggapan dari warganet.






