Tuban // matajawatimur.com – Proyek pembangunan jalan rigid beton di kawasan Babatan, Desa Latsari, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menuai sorotan tajam. Meski proses pengerjaannya baru saja tuntas, permukaan jalan beton tersebut sudah memunculkan retakan memanjang yang terindikasi sebagai bentuk kerusakan dini.
Berdasarkan dokumentasi lapangan pada Jumat, 25 September 2026, retakan melintang dan memanjang terlihat cukup kentara di beberapa segmen badan jalan. Celah retakan membentuk garis tidak beraturan, bahkan pada bagian tertentu tampak bercabang dan melebar mengikuti arah lintasan. Padahal, proyek ini tercatat masuk dalam kegiatan pembangunan TA 2026 yang baru usai dikerjakan.
Kerusakan pada konstruksi yang seumur jagung ini langsung mengundang tanda tanya publik terkait pemenuhan spesifikasi teknis. Pakar konstruksi dan standar teknis umumnya mencatat bahwa retak dini pada rigid beton kerap dipicu oleh berbagai faktor teknis: mulai dari mutu bahan baku, komposisi campuran, kesalahan proses pengecoran, minimnya perawatan pascapengecoran (curing), hingga kondisi perkerasan tanah dasar (subgrade) yang kurang stabil.
Seorang pengguna jalan yang melintas di lokasi membenarkan bahwa pengerjaan proyek tersebut belum lama rampung. “Yang saya tahu proyek ini baru saja kelar dikerjakan, Mas,” ujarnya kepada awak media.
Kendati fenomena retak pada permukaan beton membutuhkan pengujian laboratorium secara terukur-seperti pengujian kuat tekan (core drill) oleh lembaga independen-kemunculan kerusakan fisik di fase awal ini menjadi preseden buruk bagi akuntabilitas proyek infrastruktur publik.
Sorotan publik tidak sekadar tertuju pada kejanggalan fisik bangunan, tetapi juga pada transparansi proyek. Hingga saat ini, informasi mendasar mengenai nilai kontrak anggaran, sumber pembiayaan, kontraktor pelaksana, hingga tim pengawas teknis belum terpasang transparan di lokasi atau diakses publik secara terbuka.
Pemerintah Kabupaten Tuban melalui dinas teknis terkait didesak segera turun ke lapangan untuk melakukan evaluasi objektif. Langkah ini penting guna memastikan apakah retakan tersebut masih berada dalam ambang batas toleransi teknis, atau merupakan indikasi kegagalan konstruksi akibat kelalaian pelaksana.
Hingga berita ini diturunkan, dinas teknis setempat maupun pihak kontraktor pelaksana belum memberikan tanggapan resmi mengenai penyebab keretakan serta detail rincian spesifikasi proyek jalan Babatan-Latsari tersebut.







